The Violinist Argument

debat filosofis tentang hak atas tubuh dan kewajiban menjaga nyawa orang lain

The Violinist Argument
I

Bayangkan pagi ini kita bangun tidur, tapi ada yang aneh. Kita tidak berada di kasur kita yang empuk. Aroma antiseptik menusuk hidung. Saat membuka mata, kita sadar kita sedang berada di sebuah ranjang rumah sakit. Dan yang lebih gila lagi, ada selang-selang medis transparan yang menghubungkan tubuh kita dengan seorang pria asing yang terbaring koma di ranjang sebelah. Pria itu bukan sembarang orang. Kata perawat yang lewat, dia adalah pemain biola paling jenius di dunia. Tapi masalahnya, kita sama sekali tidak mengenalnya. Kenapa kita ada di sini? Jantung kita berdebar kencang. Secara refleks, tangan kita bergerak mencoba mencabut selang itu. Tiba-tiba, seorang dokter berlari masuk dan berteriak, "Jangan dilepas! Kalau selang itu dicabut, dia akan mati detik ini juga."

II

Sambil mencoba menenangkan napas kita yang memburu, dokter itu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sang pemain biola jenius ini ternyata mengidap penyakit ginjal langka yang sangat fatal. Komunitas pecinta musik sedunia tidak rela kehilangan idola mereka. Jadi, mereka melakukan hal yang nekat. Mereka meretas data medis global, dan menemukan bahwa hanya kitalah satu-satunya manusia di bumi yang golongan darah dan jaringan tubuhnya seratus persen cocok untuk menyaring racun dari darah sang pemain biola. Semalam, saat kita tidur pulas, mereka diam-diam menculik kita. Kini, ginjal kita sedang bekerja keras untuk dua tubuh sekaligus. "Kabar baiknya," kata sang dokter dengan senyum canggung, "ini cuma sementara. Sembilan bulan lagi, penyakitnya akan sembuh total dan kalian bisa berpisah. Tapi selama sembilan bulan ke depan, kalian harus tetap tersambung seperti ini. Tolonglah bertahan."

III

Sekarang, mari kita berhenti sejenak dari cerita ini dan tarik napas panjang. Skenario di atas mungkin terdengar seperti plot film thriller psikologis yang absurd. Tapi tanpa sadar, cerita ini baru saja menekan tombol-tombol moral yang sangat purba di dalam otak kita. Di satu sisi, sirkuit empati kita menyala. Kita tahu bahwa nyawa manusia itu berharga. Sang pemain biola sama sekali tidak bersalah, dia hanya orang sakit yang butuh pertolongan. Tapi di sisi lain, amigdala kita memberontak karena insting otonomi tubuh kita diinjak-injak. Tubuh kita adalah mutlak milik kita.

Pernahkah kita bertanya-tanya secara jujur, apakah secara moral kita wajib mengorbankan sembilan bulan dari hidup kita, kebebasan kita, dan kesehatan organ kita, demi menjaga nyawa orang asing? Jika kita tetap nekat mencabut selang itu hari ini demi kebebasan kita, apakah itu menjadikan kita seorang pembunuh berdarah dingin? Ataukah kita sekadar mengambil kembali apa yang memang hak kita? Pertanyaan ini sengaja dibiarkan menggantung, membelah logika dan perasaan kita. Jujur saja, tidak ada jawaban yang terasa seratus persen nyaman di hati.

IV

Teman-teman, mari saya buka rahasianya. Skenario absurd yang membuat kepala kita pening tadi bukanlah karangan saya pribadi. Itu adalah salah satu eksperimen pikiran paling brilian dan paling terkenal dalam sejarah filsafat modern. Namanya The Violinist Argument. Skenario ini diciptakan pada tahun 1971 oleh seorang filsuf perempuan bernama Judith Jarvis Thomson. Dan tebak untuk apa cerita ini dirancang? Thomson merancangnya untuk membedah salah satu topik paling sensitif, emosional, dan mempolarisasi dalam sejarah peradaban manusia: aborsi.

Selama puluhan tahun, perdebatan aborsi selalu berputar pada satu hal: apakah janin itu seorang manusia atau bukan? Thomson mengambil langkah yang sangat jenius. Dia bilang, mari kita berhenti berdebat soal itu. Mari kita asumsikan sejak detik pertama, janin adalah manusia seutuhnya yang punya hak hidup, persis seperti sang pemain biola yang koma.

Namun, di sinilah letak kejutan besarnya. Thomson memutarbalikkan logika kita dengan satu fakta fundamental: memiliki hak untuk hidup, tidak sama dengan memiliki hak untuk menggunakan tubuh orang lain tanpa persetujuan. Sang pemain biola tentu saja punya hak hidup. Tapi, hak hidup itu tidak memberinya karcis gratis untuk merampas fungsi ginjal kita secara paksa. Jika kita memilih untuk tetap berbaring di rumah sakit itu selama sembilan bulan, itu menjadikkan kita orang yang luar biasa baik (Good Samaritan). Tapi jika kita mencabut selangnya, kita tidak sedang melanggar hak hidupnya. Kita sekadar menolak meminjamkan tubuh kita. Kematiannya adalah akibat dari penyakit ginjalnya, bukan karena kita membunuhnya.

V

Filsafat dan sains memang punya cara unik untuk memaksa kita keluar dari zona nyaman. Secara biologi evolusioner, kehamilan bukanlah sekadar "membawa bayi". Secara teknis, itu adalah proses di mana satu organisme mengambil nutrisi dari organisme lain. Tubuh manusia berubah drastis, menanggung risiko medis yang nyata, dan memikul beban fisik maupun psikologis yang permanen.

The Violinist Argument tidak hadir untuk memberikan jawaban mutlak yang akan memuaskan semua pihak. Eksperimen pikiran ini hadir untuk memijat otot empati kita yang sering kali kaku. Ia mengajak kita melihat dunia dari kacamata mereka yang tubuhnya dituntut oleh keadaan untuk menjadi "mesin penunjang kehidupan" bagi makhluk lain. Kita hidup di dunia yang sangat rumit, penuh dengan area abu-abu moral. Memahami pentingnya otonomi tubuh bukan berarti kita membenci kehidupan. Kadang, itu sesederhana pengakuan bahwa tidak ada seorang pun—bahkan masyarakat, hukum, atau negara—yang berhak mengklaim kepemilikan atas tubuh kita.

Jadi, setelah memikirkan semua ini secara jernih, jika besok pagi kita benar-benar terbangun di sebelah sang pemain biola... apa yang akan kita lakukan?